Berdiri
di depan terminal dipagi buta, terlalu rapi untuk dikatakan seorang
preman namun tidak cukup rapi pula untuk dikatakan seorang profesional. Ya.. aku
adalah seorang Pre-Man yang sedang menuju Profesional. Bagian kisahku yang satu ini aku
sebut dengan penantian, menanti angkutan umum alias angkot. Kuda besi yang akan mengantarku menjalankan tugas muliaku pagi ini. Tugasnya sederhana, berdiri, berbicara dan "memerintah" didpean anak - anak yang usianya 5 atau 6 tahun dibawahku. Orang pada umumnya menyebutnya siswa atau anak murid atau banyak istilah lainnya, kalau aku seh lebih senang menyebutnya "rekan seperjuangan". Kami sama - sama sedang berjaung untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik di sisa - sisa nafas kami. Terdengar lebay seh tapi faktanya memang seperti itu. Aku berjuang untuk ke-profesionalanku dan mereka berjuang untuk tidak "diperintah" oleh orang2 yang tidak profesional sepertiku.
Batik warna biru bertuliskan SMA Negeri 6, aku lihat dikenangan beberapa ABG didalam angkutan umum pagi ini. Mereka kelihatan tidak begitu nyaman menggunakan batik tersebut, sepertinya mereka lebih ingin pake baju tidurnya dan berbaring dibawah selimut di pagi buta yang udaranya hampir beku ini. Kembali ke masalah batik, bukan masalah motif atau claim dari negara luar tapi batik yg dikenakan beberapa ABG ini menunjukan kalau kami memiliki tujuan yang sama. Sebuah sekolah dengan nomor 6 yang tidak begitu jelas menunjukkan apa. Mungkin urutan sekolah ini dibagun, atau mungkin juga urutan ke-favoritan atau mungkin urutan tarif masuk ke -6 termahal sekolah itu dibandinkang dengan sekolah lain di kota ini. Entah apa lah makna yang tercantum dalam angka 6 itu, yang jelas adalah tugas saya bukan menjadikan diriiku dan rekan seperjuanganku berada di urutan ke 6, kami ingin menjadi yang nomor 1, yang pertama dan terbaik.
Angkot ini sebenranya masih kosong hanya ada aku dan beberapa anak ABG berbatik angka 6 dan 3 orang ibu - ibu yang sepertinya hanya menumpang beberapa kilometer saja di angot ini. Kalau pada hari biasanya tidak akan mungkin sopir angkot ini mau jalan dengan hanya penumpang sekian orang saja, pastinya pa sopir nge-tam dulu nungguin penumpang penuh baru jalan. Tapi kalau pagi ini, pak sopir seperti diprogram untuk mengatar para ABG berbatik angka 6 dan aku agar samapi tepat sebelum gerbang sekolah angka 6 itu ditutup. Pak angkot maksudnya pak sopir angkot merelakan bensinnya pagi ini untuk hanya mengantar kami tepat waktu.
Dalam perjalanan 30 menit pagi ini, memberikan semangat yang mencairkan udara yang hampir beku disekitarku. Berapa banyak orang yang pagi ini berkorban dipagi ini supaya tugasku pagi ini dapat berjalan lancar. Agar supaya aku dan 43 orang rekan seperjuanganku dapat memperoleh kehidupan yang lebih layak. Kalau 43 orang itu memiliki 2 orang tua maka akan ada 86 orang yang berkorban untuk minimal memberikan uang buat bayar angkot pada anak2nya, kalau tiap orang naik angkot yang berbeda maka akan ada 129 orang, belum lagi kalu 43 orang itu punya saudara maka jumlah itu pengorban itu akan terus bertambah. Dan ini bukanlah masalah jumlah lagi, ini adalah masalah bagaimana setiap pengorban itu bersinergi seperti gear yang terpasang rapi menjalankan peran masing - masing untuk mensuport satu aktivitas sederhana pagi ini. Kuassa Tuhan untuk semua kemudahan yang diberikannya. :)
0 Komentar