Bahagia Aja atau Bahagia Banget

Ini tulisan bukan ngikutin tren para ababil (ABG Labil) ya.. Ini tren yang mungkin sejenis dengan itu namun tingkatnnya bukan ABG lagi. Tingkatannya sudah lebih tinggi lagi.Trent baru yang aku gagas sendiri namanya, gak tau mau di kutin orang atau ngak, terserahnya yang penting aku suda gagas aja dan istilahnya kau patenkan lewat cuap - cuap ini. Istilahnya aku perkenalkan sebagai "Sarjana Labil". Terlihatlatkan sejnis dengan ababil dan jelas pula tingkatannya lebih tinggi... Sarjana gitu loh !!.

Mengapa Sarjana Labil?. Itulah pertanyaanya! Mau tau ngak jawabannya apa? Mau taunya, mau tau aja atau mau tahu banget? hahaha.. Mau pilih yang mana pun pastinya you harus baca terusan tulisan ini untuk tau jawabanya.

Berawal cerita dari lulus sarjana,  mengikuti Program Profesi Guru yang ketika sudah lulus langsung dapet sertifikasi guru, dengan sertifikat tersebut, nanti kalau jadi PNS dapet tunjangan profesi sebesar gaji pokok. wawww... terdengar menjajikan bukan? asekkkk lah...
Tahap demi tahap dilalui dan 2 minggu menjelang akhir program hati mulai galau karena setelah lulus program ini harus nunggu lagi rekrutment PNS yang konon 4 atau 5 bulan lagi. Tahh.. selama itu apa yang harus dilakukan?  Pulang kampung halaman dan Nganggur di halaman kampung atau diam menjalankan bisnis kecil - kecilan sambil merajut mimpi pergi ke Eropa. Terdengar lebih mengiurkan pilihan ke-2 bukan?. Tapi ingat ini galau loh, jadi pilihan itu masi ada lanjutannya *macam sinetron aja.
Barang Bukti : Ekspresi Galau Maksimal
Kalau harus diam kemudian mencari celah buat pergi nyari beasiswa ke luar negeri banyak hal yang harus dipikirkan. Selain Luar Negeri itu adalah negerinya orang, harus ingat juga dengan milik sendiri misalnya kekasih tercinta yang sudah pengen di lamar. #Berattttt lah kalau masalah ini. Belom lagi mikirin sertifikat profesi guru yang akan sia - sia kalau gak jadi guru entar, kemudian  kalau dah lulus dan dapet gelar Master mau kerja apa?. Emang seh kalau udah punya ilmu pasti ada aja kerjaan tapi harus logis juga usia sudah lumayan 24 tahun, kekasih tercinta juga sudah sangat pengen hubungan lebih serius, Ahhhhh.. galau bangelah.
Akhirnya ditengah kegalauan yang bener2 galau munculah niat baru buat melampiaskan semuanya dengan nambah gadget.. hahaha.. gak nyambung seh cuma namanya juga galau semua hal dapat terjadi, termasuk yang satu ini.
Allhamdulillah dapet rezeki dari hasil usaha kecil-kecilan ditambah dengan trend sarjana labil yang update media sosial setiap saat dan sebagai2nya. Akhirnya dari sekian banyak gadget diputuskanlah untuk beli BB, selai ngesuport buat usaha kecil-kecilan yang saya geluti, ne gadget juga sedang booming banget, sebooming isu kiamat tahun ini. Tanpa rasa ragu dan tanpa ditemani siapapun langsung saja pergi ke pusat elektronik, fokus cari BB. Namun yahhh.. namanya juga sarjana labil gak bisa gak lirik kanan dan kiri, liat kamera, liat tablet dan bukannya menghilangkan galau nambah nambah kegalauan... hadehhh.
 Biar gak tambah galau langsung cap cus aja  "ke-warung" yang jual BB, nahhh.. saatnya pilih - pilih mau BB yang mana. Liat harga, liatt spesifikasi namun yang dimengerti ya cuma harganya ja, spesifikasi suram gak ngerti apa-apa. Jancukklah hidup ini. Dari 1 kegalauan menjadi 3 kegalauan. Galau maksimalpun mendera jiwa, yang mencetarkan dan menbahakan badai halilintar.
Akhiirnya memutuskan beli buku saja buat ntar dibca dikostan biar capek2 kelililng minimal ada hasil.
Dalam perjalanan pulang aku bercakap - cakap dengan jiwaku sendiri:
"untuk apa semuanya ini akau galaukan?" | "untuk bahagia"
"Bahagia aja atau bahagia banget" | "Pastilah Bahagia banget"
entah ilham atau petunjuk dari mana, kalimat sederhana terbesit:
"Kalau memberikan sesuatu pada diri sendiri itu baru level bahagia aja dan bahagia banget itu ketika mampu memberikan sesuatu buat orang yang dicinta, tentunya orang tua dan keluarga"
Kalimat yang sangat sederhana namun bermakna minimal sebagai galaubreaker dan moodboaster.

Posting Komentar

0 Komentar