Salah satu contoh
klasik dari gerak harmonis sederhana adalah gerak balok yang dihubungkan dengan
pegas (gambar 1). Jika pegas tidak ditekan atau ditarik dengan simpangan yang
terlalu jauh, gaya F pada balok sebagai fungsi posisi x dapat dinyatakan
sebagai:
F = - k x (1)
| Gambar 1 : Sistem pegas balok |
Meskipun terlihat sederhana, persamaan (1) memiliki makna yang cukup
mendalam. Untuk memahaminya secara menyeluruh perlu kajian yang cukup mendalam.
Dalam Tulisan ini akan coba saya jabarkan kode program dalam bahasa c++ untuk
membuat simulasi gerak dari sistem pada gambar (1). Saya berharap dengan
sedikit bantuan dari kode program berikut akan memberi tambahan instrument
untuk mengkaji lebih dalam tentang makna
dari persamaan (1).
Sebelum membahas tentang kode program terlebih dahulu saya akan mencoba
memberikan sedikit interpretasi saya tentang makna dari persamaan (1). Yang
membuat persamaan 1 menjadi menarik adalah tanda minus (-) pada ruas kanan. Kenapa
demikian?. Coba kita ingat kembali bahwa Gaya (F) dan posisi (x) adalah besaran
vektor, artinya selain memiliki besar kedua besaran tersebut juga sangat
berpengaruh pada arahnya. Misalkan : Ketika balok sedang bergerak ke kanan dan
posisi balok berada di kanan titik keseimbangan (x positif) maka arah gaya pada
benda adalah negatif dari arah vektor x, dalam bahasa yang lebih sederhana Arah
dari F berlawan dengan arah dari perubahan posisi x. Kemudian jika terjadi
sebaliknya, benda sedang bergerak ke kiri (x bertanda negatif) maka F akan
menjadi bertanda positif dan lagi – lagi F memiliki arah yang berlawan dengan
x. Jadi jika kita simpulkan F akan selalu memiliki arah yang berlawan dengan
arah x.
Dalam sebuah literator dikatakan bahwa “tanda
negatif memiliki arti bahwa gaya yang bekerja pada benda akan berusaha untuk
mengembalikan (memulihkan) benda ke posisi keseimbangan”. Oleh karena
sifatnya yang demikian maka gaya tersebut sering juga di kenal dengan istilah “Gaya Pulih” atau “gaya pemulihan”. Istilah lain
dari gaya tersebut juga adalah “gaya
pegas”. Kenapa gaya pegas? Kayaknya tidak perlu saya jelaskan untuk hal ini
ya J.
Owh iya, apa itu posisi keseimbangan? Dari namanya mungkin sudah bisa
diterka – terka apa itu posisi keseimbangan. Dalam bahasa yang umum digunakan
pada buku – buku literator posisi keseimbangan adalah posisi benda ketika benda
dalam keadaan seimbang atau belum di beri gangguan. Gangguan dalam konteks ini
maknanya adalah diberi tarikan atau dorongan.
Lumayan pajang juga penjelasan tentang tanda negatif dari persamaan 1 di
atas ya. Kalau masih kurang panjang nanti saya coba tambahkan lagi deh. OK, setalah mencoba memahami sedikit makna fisis dari persamaan 1 kit
sekarang mencoba untuk menjabarkan makna persamaan 1 ke hal yang lebih detail,
dan dalam penjelasan berikut akan lebih banyak menggunakan persamaan matematika
yang kalau kalian tidak paham jangan sampai frustrasi atau sampai ingin bunuh
diri,, lebay!!
Gaya dalam pernyataan hukum II Newton biasanya dinyatakan dengan
F = m a (2)
Gaya pada persamaan 1 dan persamaan
2 jika kita substitusikan akan didapatkan hubungan antara massa (m), percepatan
(a), konstanta pegas (k) dan posisi (x), jadi ribetkan L
m
a = - k x (3)
untuk mengurangi besaran yang kita bahas kita coba ingat lebih dalam lagi
tentang hubungan antara percepatan dengan posisi, kalau tidak ingat saya
tuliskan lagi deh nee.

(4)
Jika digabungkan persamaan 3 dan 4 akan didapatkan hal yang terlihat seperti lebih sulit namun percayalah ini kan membuat persamaan ini bisa diselesaikan lebih mudah;
Dsisini kita
coba kenalkan sebuah simbol baru yakni omega (⍵) yang kita namai dengan frekuensi sudut. Lebih jauh
lagi nanti kita bahas apa yang di maksud dengan frekuensi sudut tersebut. Namun
jika kita menyamakan antara besaran yang
di tengah dengan yang di kanan maka secara langsung kita bisa katakan bahwa :
(6)
Coba kita tulis ulang lagi persamaan 5 supaya terlihat lebih eksotik dan mudah untuk kita identifikasi dan mudah – mudahan bisa kita selesaikan
Nah persamaan di
atas dalam kuliah Fisika Matematika kita kenal dengan istilah PDB orde 2 dengan koefesien konstan. Cara
menyelesaikannya banyak, yang cukup mudah dipahami dan di lakukan adalah
ekspansi deret Taylor (apalagi ini!!). Dalam posting ini saya tidak akan
menguraikan penurunannya karena bisa jadi panjang. Saya langsung saja pada hasil
akhirnya yakni persamaan posisi atau x dari persamaan (6). Hasilnya adalah
sebuah persamaan sinus atau cosinus, yakni ;
Dengan A adalah
amplitudo dan t adalah waktu.
0 Komentar